PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak menguat pada Jumat (8/5) setelah pertempuran kembali pecah antara Amerika Serikat dan Iran, mengancam gencatan senjata yang rapuh sekaligus memudarkan harapan kemajuan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur transit utama minyak dan LNG. Brent naik 67 sen atau 0,67% ke US$100,73 per barel pada 06.50 GMT, sementara WTI naik 45 sen atau 0,47% ke US$95,26 per barel, setelah sempat menguat lebih dari 3% di awal perdagangan.
Kenaikan ini memutus tren penurunan tiga hari terakhir yang dipicu laporan bahwa AS dan Iran mendekati kesepakatan damai, meski isu yang lebih besar seperti program nuklir Iran belum terselesaikan. Namun untuk sepekan, kedua kontrak masih berada di jalur turun sekitar 6%, menandakan pasar masih menilai ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan harga yang konsisten.
Lonjakan harga terjadi setelah Iran menuding AS melanggar gencatan senjata yang telah berjalan sekitar sebulan, sementara AS menyebut serangannya sebagai respons setelah Iran menembaki kapal Angkatan Laut AS yang melintas di Selat Hormuz pada Kamis. Militer Iran juga menyatakan AS menargetkan sebuah tanker minyak Iran dan kapal lain, serta area sipil di sekitar selat dan daratan. Meski demikian, Presiden Donald Trump mengatakan gencatan senjata masih berlaku, memperkuat persepsi pasar bahwa headline geopolitik dapat cepat berubah dari de-eskalasi ke eskalasi.
Dari sisi fundamental, fokus utama tetap pada risiko pasokan: Selat Hormuz sebelumnya menjadi koridor bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia sebelum perang dimulai pada 28 Februari, sehingga setiap hambatan pada rute ini berpotensi menaikkan premi risiko energi dan memperbesar sensitivitas inflasi global.
Di luar faktor geopolitik, pasar juga menyoroti laporan bahwa otoritas AS (CFTC) menyelidiki transaksi minyak senilai US$7 miliar menjelang pengumuman terkait perang Iran, yang disebut banyak melibatkan posisi short di ICE dan CME. Perkembangan konflik di Hormuz, sinyal diplomasi, dan indikasi gangguan aliran fisik akan menjadi variabel kunci yang dipantau pasar untuk menentukan apakah rebound ini berlanjut atau kembali memudar.
PT Equityworld Futures Semarang
