PT Equityworld Futures Semarang – AS kontak China memakai berbagai jalur, negosiasi sudah dekat?
PT Equityworld Futures Semarang – Amerika Serikat telah menghubungi Tiongkok melalui berbagai jalur untuk membuka diskusi tentang tarif impor yang mencapai 145%, menurut laporan dari akun media sosial Tiongkok yang berafiliasi dengan media pemerintah, Yuyuan Tantian.
Meskipun tidak ada pengakuan resmi dari kedua belah pihak, langkah ini menandai potensi awal dari negosiasi yang sebelumnya terhambat oleh retorika keras dan kebijakan proteksionis.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dan penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, menyatakan tarif yang sangat tinggi, 145% dari pihak AS dan 125% dari pihak Tiongkok, perlu dikurangi sebelum negosiasi resmi bisa dimulai.
Bessent menyebut langkah awalnya termasuk mengevaluasi kembali kegagalan Tiongkok memenuhi komitmen pembelian dalam “Phase 1” kesepakatan dagang tahun 2020.
Sementara itu, Beijing secara terbuka menunjukkan sikap menolak tunduk pada tekanan Washington.
Namun secara diam-diam, Tiongkok mulai menyusun daftar barang AS seperti etana, semikonduktor, dan farmasi tertentu yang akan dibebaskan dari tarif balasan. Langkah ini dipandang sebagai sinyal diplomasi halus tanpa terlihat menyerah.
Meskipun Presiden Donald Trump menyatakan China layak mendapat tarif tinggi dan efeknya hanya akan berdampak ringan pada konsumen AS, kenyataannya, data menunjukkan arus kargo dari Tiongkok ke AS telah anjlok 60%. Hal ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan, PHK di sektor logistik, serta lonjakan harga di Amerika.
Dalam lingkup yang lebih luas, tekanan ekonomi akibat tarif ini lebih besar dirasakan oleh Tiongkok, yang secara statistik mengekspor lima kali lebih banyak barang ke AS daripada sebaliknya.
Nomura Securities memperkirakan hingga 16 juta warga Tiongkok berisiko kehilangan pekerjaan jika ekspor terus merosot.
Sikap publik Beijing tetap keras, menyatakan negosiasi hanya akan terjadi jika AS menunjukkan langkah “bermakna”.
Meski begitu, adanya pelonggaran tarif pada sektor otomotif oleh Trump, serta upaya pencitraan hubungan dagang dengan negara lain seperti India, menunjukkan pemerintahan AS juga tengah mencari celah diplomatik yang lebih luas.
Hingga kini, belum ada pembicaraan formal antara kedua negara. Namun sinyal-sinyal yang muncul menunjukkan kedua belah pihak mulai menyadari perlunya meredakan ketegangan demi kestabilan ekonomi global.
No Comments