PT Equityworld Futures Semarang – Harga emas cenderung stabil pada Senin (18/5), namun tetap berada di bawah tekanan setelah penurunan tajam pekan lalu, di tengah belum adanya kemajuan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kekhawatiran inflasi kembali menguat karena gangguan arus energi dari Timur Tengah terus berlanjut, sementara pasar obligasi global tertekan.
Emas spot diperdagangkan datar di US$4.541,24 per ons pada 11:00 a.m. waktu London, setelah turun hampir 4% pekan lalu. AS dan Iran disebut masih berjauhan dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang dan memulihkan akses Hormuz, jalur vital bagi pengiriman energi global.
Minyak menguat setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran, memperbesar risiko inflasi berbasis energi dan meningkatkan peluang suku bunga bertahan tinggi atau naik. Kanal inflasi tersebut ikut mendorong aksi jual obligasi global, mengangkat yield karena pasar meragukan pasokan energi Timur Tengah akan cepat normal—kondisi yang biasanya membebani emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Di lapangan, serangan drone pada Minggu yang memicu kebakaran di sebuah pembangkit nuklir di Uni Emirat Arab menyoroti rapuhnya gencatan senjata AS–Iran. Sejak anjlok pada fase awal konflik, emas bergerak dalam rentang relatif sempit karena investor menimbang risiko inflasi yang menahan peluang pelonggaran melawan risiko pertumbuhan jika konflik berlarut. Secara kumulatif, emas disebut turun sekitar 14% sejak konflik dimulai.
JPMorgan menilai minat investasi baru pada logam mulia “mengering menjadi setetes” karena kekhawatiran suku bunga lebih tinggi, dengan penyelesaian konflik dipandang kunci untuk memulihkan permintaan, meski pembelian bank sentral dinilai dapat menjadi penopang. Di sisi permintaan Asia, kebijakan impor India yang lebih ketat turut membebani sentimen, dengan impor emas melambat di tengah bea yang lebih tinggi; India juga memperketat aturan impor perak untuk mempertahankan mata uangnya yang turun ke rekor terendah.
Di pasar logam lain, perak turun 0,2% ke US$75,79 per ons setelah anjlok lebih dari 5% pekan lalu. Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,1% pada hari itu setelah naik 1,2% pekan lalu. Fokus pasar pekan ini tertuju pada risalah rapat The Fed April untuk petunjuk arah suku bunga, serta perkembangan negosiasi AS–Iran dan arus kapal di Hormuz yang akan menentukan arah minyak, inflasi, dan minat safe haven.
PT Equityworld Futures Semarang
