PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS bergerak stabil pada Senin (11/5) setelah Presiden Donald Trump menolak respons Iran atas proposal damai AS, mendorong harga minyak naik dan menghidupkan kembali kekhawatiran konflik Timur Tengah dapat berlarut.
Indeks dolar (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, nyaris tak berubah di 97,995.
Kenaikan minyak menjadi kanal transmisi utama ke pasar FX karena memperkuat risiko inflasi dan menambah ketidakpastian kebijakan. Brent naik sekitar 3,6% ke US$104,94 per barel, sementara pelaku pasar menilai eskalasi ini tetap dibatasi oleh keyakinan bahwa konflik pada akhirnya dapat mereda, terutama karena peran China dan pertemuan Trump dengan Presiden Xi Jinping pekan ini yang disebut akan membahas Iran, di samping isu Taiwan, AI, senjata nuklir, dan mineral kritis.
Di sisi makro AS, fokus bergeser ke rilis inflasi April yang akan keluar pekan ini setelah data tenaga kerja Jumat lalu menunjukkan non-farm payrolls naik 115.000 pada April, lebih kuat dari perkiraan, memperkuat ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah untuk beberapa waktu. The Fed menahan suku bunga bulan lalu, namun keputusan tersebut memunculkan perbedaan pandangan paling dalam dalam beberapa dekade, dengan tiga pejabat berbeda pendapat terhadap sinyal pemangkasan suku bunga ke depan, sehingga faktor pendukung dolar dinilai masih relatif solid di tengah kombinasi data AS yang resilien dan ketegangan geopolitik.
Pergerakan mata uang lainnya bercampur: yuan China sempat menyentuh level terkuat lebih dari tiga tahun sebelum offshore yuan stabil di 6,7928 per dolar, didukung data producer prices yang melampaui ekspektasi ke level tertinggi 45 bulan serta ekspor yang dilaporkan menguat seiring permintaan terkait AI. Euro turun 0,1% ke US$1,1774, yen melemah 0,3% ke 157,11 per dolar, dan pound turun 0,23% ke US$1,36, dengan pasar Inggris turut memantau dinamika politik domestik pasca pemilu lokal dan implikasinya terhadap arah kebijakan.
PT Equityworld Futures Semarang
